Saturday, May 11, 2019

RUANG POLITIK KITA UNTUK PEMULA DAN OPINI


RUANG Politik Kita untuk PEMULA
M IQBAL LAWEUENG*

COBA ini dipikirkan lagi secara mendalam: mengapa politik harus selalu kita hubungkan dengan hal-hal besar atau yang berat-berat? Ketika menanyakan apa isi politik sebenarnya, siapa yang bertempat di dalamnya, lazimnya orang-orang menunjuk ke depan. Bukan mengacungkan jari telunjuknya ke atas, bukan ke arahnya sendiri.
Goenawan Mohamad meyakini: “Politik tak bisa dikurung di satu tempat. Politik tak hanya berkisar di sejumlah lembaga. Bahkan partai, parlemen, dan pemerintahan bukanlah ruang dan waktu politik yang sebenarnya” (“Representasi”, Tempo, 2/10/2011). Faktanya, politik melulu dirujuk pada aktivitas elite-elite politik. Jadinya: politik adalah “mereka”.
Kehidupan terdiri dari bermacam “kamar”: politik, ekonomi, budaya, agama, olahraga, pendidikan, seksual, dan sebagainya. Semuanya saling terhubung. Segenap aktivitas manusia tak lepas dari “kamar politik”. Tiada hal yang tak berhubungan dengan politik. Sandal jepit, baju kaus, rokok, pistol air, hingga tusuk gigi adalah komoditi-komoditi yang diproduksi dalam “kamar ekonomi”.
Karena negara (institusi politik induk) mengenakan pajak untuk setiap komoditi yang dipasarkan, maka politik pun terkandung di tusuk gigi. Itulah politik negara. Jadi, bagi setiap orang, “ruang dan waktu politik yang sebenarnya” berkaitan dengan aneka dinamika dalam “kamar hidup” yang ditempatinya.
Yang kita alami, makan, gunakan, dan lakukan adalah realitas politik dalam lingkup “kamar hidup” kita sendiri. “Politik saya” terbentuk ketika seseorang “saya” (individu) sadar bahwa politik, bagi dirinya sendiri, adalah realitas-realitas kecil yang berkisar di kehidupan sehari-harinya sendiri.
Aktivitas sehari-harinya adalah “politik diri”. Politik tak dipandang sebagai “kamar” segelintir pihak saja. Tanpa perlu memasuki “ruang politik praktis”, seseorang tetap memiliki “kamar politik” sendiri. Semua orang memiliki politik. Dari sinilah “saya” akan menggerakkan, mengubah, mempertahankan, dan mengembangkan kehidupannya sebelum membentuk “politik kita”.
Jika kemudian “saya” berasosiasi dengan banyak “saya” lainnya atas dasar kesamaan nasib, maka kemudian membentuk “kita” (komunitas). Lantas, “politik saya” menjadi “politik kita”. Tindak lanjutnya: “saya” kemudian berupaya agar hal-hal yang dialaminya terjadi/tidak terjadi pada “kita”. Filsuf Niccolo Machiavelli percaya, “Rakyat menjadi kuat jika bersatu, tetapi lemah sebagai individu-individu”. Partisipasi bersama pun tercipta.
Jika ada “kita” yang menempati “kamar olahraga”, khususnya sepak bola, misalnya, “politik kita” digunakan untuk mendesak pemerintah kota agar melanjutkan turnamen sepak bola U-21 yang dilangsungkan cuma sampai babak penyisihan grup. “Politik kita” memperjuangkan nasib semua tim yang berambisi jadi juara.
“Politik kita” menuntut pemerintah menuntaskan kompetisi. “Politik kita” digunakan untuk menentang wali kota yang tak peduli pembinaan atlet muda. Kesadaran kritis yang muncul kemudian mempertanyakan: dikemanakan dana kompetisi tersebut, diendap atau ditilap? Dengan “politik kita”, pemerintah dituntut terbuka kepada publik.
“Politik kita” juga upaya memberdayakan, mengatur, dan melindungi diri bersama komunitas dari rongrongan “politik mereka”. Karena “kita” tak mampu mengubah Yahudi, maka “politik kita” harus memastikan bahwa Yahudi juga tak mampu mengubah “kita”. Masyarakat cerdas pun akan berusaha menghadang kejahatan “politik mereka” dengan “politik kita”.
“Politik kita” pun berkenaan dengan pemborosan energi oleh Indomaret. Bayangkan, dalam sebuah minimarket Indomaret, berderet dipasang puluhan lampu tabung panjang (tubular lamp). Ada Indomaret di Lhokseumawe yang memasang 63 lampu: 22 lampu di dua deret, 10 di tiga deret, tambah 9 lampu depan. Itu belum seberapa. Salah satu Indomaret lainnya lebih dahsyat: ada 6 baris lampu, masing-masing baris dipasang 11 lampu, tambah 6 lampu depan, total: 72 lampu!
Apa hubungan pemborosan energi itu dengan “saya” dan “kita”? Tagihan listrik memang dibayar Indomaret. Namun, imbas dari penggunaan lampu-lampu mubazir–yang tujuannya “menyilaukan” mata konsumen–itu tak hanya dibebankan kepada Indomaret saja.
Kelak, saat terjadi krisis energi, semua “saya” akan menanggung beban itu. Termasuk wali kota yang persetan dengan spirit hemat energi. Kasus Indomaret hanya contoh kecil. Tak seberapa dibanding pemborosan energi secara besar-besaran oleh pabrik-pabrik para kapitalis tamak.
Sementara negara, atas nama “haram mengintervensi pasar”, merasa tak perlu memproteksi rakyatnya dalam jangka panjang. Di sinilah “politik kita” memainkan peran. Sebelum pemborosan itu mengusik “kita”, “politik kita” harus digerakkan untuk menuntut wali kota mengeluarkan kebijakan hemat energi bagi setiap tempat usaha yang beroperasi di malam hari.
Penentu politik
Politik tak boleh dipahami secara kaku sebagai: aktivitas sejumlah manusia di lembaga-lembaga politik. Jika politik dipahami kaku seperti itu, maka “saya”, misalnya Bisma Yadhi Putra dan para “pelaku politik saintifik” (istilah Radhar Panca Dahana) lainnya, yang tak menghuni lembaga pemerintahan manapun, tak dianggap bagian dari politik. Dia bukan isi politik, karena politik dilihat secara sempit sebagai “kamar hidup” yang hanya dihuni “pelaku politik praktis”. Yang tak berpolitik praktis dianggap objek.
Maka, sebagai objek, “kita” pun hanya bisa melihat “pantat politik”. Padahal, “kita” punya andil mengisi politik, misalnya dengan pajak, aspirasi, atau kritik. Namun, “kita” malah tak tahu bagaimana “perut politik” mencerna segala input politik. Tahu-tahu “kita” harus menikmati “kotoran politik”.
Rakyat mesti jadi penentu politik. Sebelum “kita” dibangun, setiap “saya” harus sadar bahwa ia makhluk berdaya. Dengan begitu, keadaan negara pun akan sangat ditentukan “saya”. Bayangkan jika ada jutaan “saya” tak mau bayar pajak gara-gara para aparatur negara menilap uang pajak: niscaya negara lumpuh. Bayangkan jutaan “saya” tak lagi taat hukum gara-gara pembuat hukum melanggar hukum: niscaya “pengadilan jalanan” pun jadi kelaziman.
Dengan memosisikan diri sebagai subjek politik, setiap orang akan memiliki dirinya sendiri. “Kita” pun mampu memahami siapa dirinya, apa yang dialaminya, apa yang dimilikinya, apa yang harus dilakukannya.
Manusia berdaya tak akan teralienasi dari “kamar politik” yang ditempatinya, karena dia menguasai dirinya secara utuh. Dia tak dapat dikuasai elite-elite politik. Dia kebal dari rayuan politik uang para caleg pragmatis. Suaranya tak dapat dibeli. Pemikirannya tak bisa diracuni.
 E-mail: muhammadiqbalsip.2016@gmail.com

Friday, September 21, 2018

PERTARUNGAN PILRPES 2019 / PESTA DEMOKRASI

SELAMAD BERTARUNG DI PILPRES 2019
Jokowi- KH Ma’ruf Amin Nomor 1 (Ganjil) Dan Prabowo-Sandi Mendapatkan Nomor 2 (Genap)
OLEH: Muhammad Iqbal S.ip




Sabtu, 22 September 2018

Pengundian nomor urut bagi pasangan capres-cawapres yang akan bertarung di Pilpres 2019sudah dilaksanakan.Pasangan Jokowi-Maruf mendapatkan nomor urut 1, sementara Prabowo-Sandiaga mendapatkan nomor urut 2, Jumat (21/9/2018).
Prabowo dan Sandiaga yang mendapatkan nomor urut 2 mengomentari soal ini."Yang saya hormati bapak Jokowi Presiden RI yang juga menjadi calon presiden RI nomor urut 1.Yang saya sayangi dan hormati juga Prof Doktor KH Maruf Amin," ujarnya pada awal sambutan.
    "Saya atas nama pribadi dan Sandiaga dan seluruh partai dan relawan yang mendukung saya mengucapkan terimakasih kepada KPU seluruh Komisioner, Bawaslu, DKPP atas semua penyelenggaraan untuk mempersiapkan dan melaksanakan pemilu 2019.
Sama dengan pak Jokowi saya berharap dan menyerukan seluruh jajaran rakyat Indonesia mari kita kita laksanan pemilu dengan sejuk, damai, untuk mencari yang terbaik bukan untuk mencari kesalahan atau kekurangan masing-masing.
Kita harus merasakan kita ini keluarga besar NKRI, karena itu kita harus menyikapi persoalan bangsa sebagai persoalan keluarga besar kita.
Saya harap semua pihak bersikap tenang dan tidak emosiaonal, menahan diri marilah ktia menyongsong proses demkrasi dengan tenang, semua pihak melakukan tugasnya masing-masing," ujar Prabowo.
Setelah Prabowo mengakhiri pidato, Sandiaga pun sedikit menambahkan.
"Singkat saja dari saya sebelum acara dimulai tadi kawan saya Ipang Wahid tergopoh-gopoh, Pak Presiden menerima Prabowo dan saya di bawah.
Ternyata di bawah itu kita membicarakan apakan nomor urut 1 dan 2 ini akan menimbulkan komplikasi karena ada partai juga memiliki nomor sama, tapi Pak Prabowo dan Pak Jokowi dengan santainya menambahkan menambahkan angka nol (0) di depan nomor urut, gak sampai satu menit itu menunjukkan kita bersahabat," ujarnya.Setelah itu, Sandiaga pun mengatakan persoalan ekonomi dalam sambutannya."Kita ingin pemilu yang mempersatukan, pemilu yang menjung tinggi keberagaman, persatuan kita, sehingga percepatan pembangunan dengan membangun ekonomi khususnya lap kerja dan biaya hidup bisa kita lakukan," tambah Sandiaga.

          Maka dari itu, semua TIM relawan nasional pasti sudah mempunyai tehnik dan strategi masing-masing dalam memenangkan pilpres 2019, harapan pun terjadi dikalangan TIM pemenangan nasional SAHABAT PRABOWO SANDI ACEH, dengan harapan dan kata selamad kepada Bapak Prabowo dan sandiaga dengan NO urut 2, sejarah membuktikan beberapa tahap pilpres belakang selalu di menangkan dengan angka Genap,maka dari itu Kita yakin dan penuh antusias angka tersebut adalah keburuntungan untuk Pilpres 2019, insha ALLAH #2019 GANTI PRESIDEN.

Tuesday, August 1, 2017

CONTOH SURAT PERNYATAAN ORSINALITAS SKRIPSI

SURAT PERNYATAAN ORSINILITAS SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama                                 :  MUHAMMAD
Nim                                    :  100240000
Jurusan/Program Studi      :  Ilmu Komunikasi
Fakultas                             :  Ilmu Sosial 
Perguruan Tinggi               :  Universitas Malikussaleh
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi ini benar dibuat oleh penulis sendiri dan orisinil belum pernah diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu perguruan tinggi dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka. Apabila ternyata di dalam skripsi ini semua atau sebagian isinya terdapat unsur-unsur plagiat, maka saya bersedia skripsi ini digugurkan dan gelar akademik yang saya peroleh dapat dicabut/dibatalkan, serta dapat diproses sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Demikian  surat pernyataan ini dibuat dan ditandatangani dalam  keadaan  sadar  tanpa tekanan/paksaan oleh siapapun.

                  Bukit Indah ,   Maret 2015
Yang Menyatakan,





MUHAMMAD

100240000

surat penawaran dalam industri/perusahaan (TENDER)




                                                                                                                Lhokseumawe, 13 Juli 201...
Lamp     :  (Satu berkas )                                                                                              Kepada Yth :
Hal         : Surat Penawaran                                                              PT. MDC
Pekerjaan Pembangunan     MASJID Di....
                                                                                                                Di –
                                                                                                                Blang Lancang
Sehubungan dengan Adanya tender pekerjaan oleh PT. MDC Di Perta arun gas ”Pembangunan Kantor Masjid“ dengan perihal tersebut di atas, kami yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama               : IBAL LAWEUENG
Jabatan            : Direktur
Perusahaan      : PT. ARUN LNG
Alamat             : Jl.Medan-Banda Aceh No.
Email               : IBAL LAWEUNG *...COM
Setelah membaca dan mempelajari dengan teliti gambar temporari tersebut, maka dengan ini kami dari PT.Arun LNG mengajukan nilai penawaran sebesar RP 93.000.000( SEMBILAN puluh tiga juta rupiah) sudah termasuk sekup di dalam gambar ini dan tidak termasuk semua pajak.
Demikian data pendukung penawaran ini kami ajukan dengan penuh tanggung jawab dan mengikat.
                                                                                                        

                                                                                             Lhokseumawe, 13 juli 201...
                                                                                                         PT. ARUN LNG


                                                                                              IBAL LAWEUNG

                                                                                              Direktur

SKRIPSI TENTANG PEREKONOMIAN ACEH UTARA.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
          Pasca bencana Tsunami tahun 2004 di propinsi Aceh, dimana pada saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh sedang berjalan, keberadaan dapue bata yakni pabrik pembuat batu  bata membanjiri beberapa daerah. Produksi batu bata  yang sudah ada sejak dulu, bertambah jumlahnya secara drastis seiring  meningkatnya permintaan pasar. Menjamurnya usaha dapue bata membawa hikmah tersendiri bagi perekonomian rakyat Aceh. Dengan  semakin banyaknya pabrik pembuat batu bata maka semakin besar pula peluang kerja bagi masyarakat golongan bawah.
Pekerjaan membuat batu bata relatif mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, atau usia. Pekerjaan sebagai buruh pembuat batu bata tidak membutuhkan pendidikan tinggi serta keterampilan khusus. Mereka hanya membutuhkan tenaga yang kuat untuk mampu bekerja secara maksimal. Pada umumnya para  pekerja ini hanya berpendidikan  SD sampai SMP saja, sementara itu tujuan mereka hanya untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah saja demi kelangsungan hidup mereka (Burhanuddin, 2002:9).
Disamping itu, produksi batu bata baik secara teknikal dan manual tersebut mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat Aceh yang dimanfaatkan sebagai mata pencaharian bagi masyarakat itu sendiri baik laki-laki maupun perempuan.Dalam hasil sensus akhir Februari 2012 menunjukkan bahwa tenaga kerja di Aceh terdiri dari 49.39 pekerja perempuan, jumlah tenaga kerja laki-laki sebesar 1.293.720 jiwa dan perempuan sebanyak 1.336.235 jiwa.
 Dari hasil sensus di atas menunjukkan bahwa tak sedikit perempuan Aceh yang berperan dalam konstribusi ekonomi bagi keluarga, tak sedikit perempuan  menjadi tulang punggung  untuk meringankan perekonomian  keluarga. Kondisi ini kerap dijumpai di berbagai daerah di Aceh , tidak sedikit perempuan Aceh  yang memilih bekerja sebagai buruh pembuat batu bata (Idawati, 2013 :1).
Dalam hal ini, perempuan, khususnya ibu-ibu seakan berkesempatan untuk ikut menopang ekonomi keluarga. Mereka secara mandiri bekerja mengais rezeki membuat batu bata merah secara manual. Pilihan sebagai buruh pembuat batu bata disebabkan karena berbagai alasan, antaranyadiakibatkan karena penghasilan suami yang tidak mencukupi sehingga  istri harus turun langsung untuk bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarga  atau bahkan perempuan-perempuan ini menjadi tulang punggung keluarga seutuhnya karena telah ditinggal mati oleh suami mereka.
Kehidupan sebagai pengrajin Batu Bata merupakan pilihan yang tidak mudah, era globalisasi serta modernisasi saat ini, membuat perempuan dengan latar belakang pendidikan yang rendah tidak mempunyai  pilihan lain dalam menekuni bidang pekerjaan yang layak, kondisi semacam ini yang mengharuskan mereka bekerja apa saja guna untuk mendapat penghasilan sehari-hari.
Sungguh  tidak banyak  orang yang mengerti tentang  sejarah kehidupan buruh pembuat  batu bata dan representasi pengrajin Batu Bata itu sendiri. Berdasarkan latar belakang tersebut  peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang buruh pembuat batu bata dengan judul : “  PEREKONOMIAN ACEH UTARA.

1.2      Rumusan Masalah
            Berdasarkan Latar Belakang Masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kehidupan perempuan pembuat batu bata dalam  menjalankan roda perekonomian keluarga studi di Gampong Meunasah Aron Kecamatan Muara Batu Kabupaten  Aceh Utara.

1.3      Fokus Penelitian
            Adapun dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian adalah:
-          Sejarah kehidupan perempuan pengrajin Batu Bata dan perekonomian aceh utara
-          Cara kerja perempuan dalam  perekonomian aceh utara.
-          Pendapatan yang diperoleh






1.4      Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskribsikan kehidupan perempuan pembuat batu bata untuk memenuhi perekonomian keluarga yang ada di Gampong Meunasah Aron Kecamatan  Muara Batu Kabupaten Aceh Utara.

1.5  Manfaat Penelitian
   1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan serta dapat digunakan sebagai refleksi bagi pemerintah, LSM dan Universita terkait untuk menentukan perubahan ekonomi, sosial dan budaya.
  2. Manfaat Praktis
Untuk memotivasi dalam pengembangan pengetahuan, kemudian juga sebagai referensi tambahan dalam mengkaji tentang sejarah kehidupan sosok inspiratif lainnya



  



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1      Penelitian Terdahulu
Idawati (2014) penelitian yang berjudul “ Kehidupan Perempuan Pencari Kerang untuk Memenuhi Kehidupan Keluarga Studi Life di Gampong  Lhok Mambang Kecamatan Gandapura” Jurusan Antropologi Universitas Mallikussaleh , dengan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sejarah perempuan Lhok Mambang mencari kerang berawal dari keinginan para perempuan untuk meringankan beban suami. Dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan tipe penelitian Life History.
            Adapun persamaan penelitian ini dengan peenelitian terdahulu sama-sama meneliti sejarah kehidupan sosok inspiratif dengan berlandaskan tipe Life History. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian yang ingin diteliti peneliti terletak pada studi kasus dan konteks kehidupan yang berbeda.
Safrianti (2013) penelitian yang berjudul “ Life History Penelitian Pengrajin Coklat “ dengan menggunakan metode penelitian  penelitian kualitatif dengan berlandaskan tipe Life History dengan fokus penelitiannya tentang bagaimana kisah dan sejarah kehidupan petani coklat.
Relevansi antara penelitian di atas dengan penelitian ini sama-sama menganalisis tentang Life History atau sejarah kehidupan seseorang yang menginspirasi dengan menggunaakan metode yang sama yakni kualitatif dengan tipe Life History, sedangkan perbedaannya dalam penelitian di atas mengambil objek petani coklat dan dalam penelitian ini mengambil objek pembuat  batu bata yang ada di gampong Meunasah Aron Kec. Muara Batu Kab. Aceh Utara.
2.2. Landasan Teori
2.2.1 Pendekatan Life History
Koentjaraningrat dalam Burhan Bungin (2010 : 23) mencatat bebrapa faedah Life Histori bagi penelitian social, terutama dilihat dari materi pendekatan ini:
Data life history penting bagi penelitian untuk mempelajari untuk memperoleh pendangan dari dalam mengenai gejala dalam suatu masyarakat melalui pandangan diri gejala dalam suatu masyarakat melalui pandangan diri para warga sebagai partisipan dari masyarakat yang bersangkutan.
Data life history penting untuk mencari pengertian mengenai masalah individu warga masyarakat yang suka berkelakuan menyimpang dari biasa, dan mengenai masalah peranan Deviant Individual seperti sebagai pendorong gagasan baru, perubahan masyarakat dan kebudayaan.
Data life histori penting bagi penelitian untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang hal-hal psikologis yang tak mudah diperoleh melalui observasi, atau melalui metode interview langsung.Data Life History penting bagi penelitian untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang hal-hal psikologis yang tak mudah diperoleh melalui observasi, atau melalui metode interview langsung.              Data life history penting bagi penelitian untuk mendapat gambaran yang lebih mendalam mengenai detail dari persoalan yang tidak mudah untuk diceritakan kepada orang lain, seperti umpamanya cara hidup nakal, gelandangan, pelacur, penjahat dan sebagainya, atau pemahaman mengenai persoalan mengapa masyarakat tersebut menjadi miskin, masyarakat tertentu pencuri, perampok dan sebagainya.
2.2.2  Usaha Batu Bata                                                   
Rumah atau tempat tinggal pada umumnya menggunakan Batu bata sebagai bahan dasar bangunannya. Penggunaan batu bata banyak digunakan untuk dinding pada bangunan perumahan, bangunan gedung, pagar, saluran dan pondasi. Batu bata umumnya dipakai sebagai penyangga atau pemikul beban yang ada diatasnya. Pesatnya pembangunan di sektor perumahan dan property menjadikan kebutuhan terhadap batu bata semakin meningkat, hal ini merupakan membuka peluang usaha dalam pengadaan materia bangunan untuk mendukung pembangunan sektor tersebut.            Hal lain yang menjadikan komoditas ini sebagai peluang usaha adalah karena proses pembuatannya yang relatif mudah dengan biaya investasi yang murah dan bahan baku yang cukup. Peralatan yang diperlukan pun gampang hanya terdiri dari Cangkul, Pencetak Batu Bata, Mesin Penggiling batu bata, Mesin Pembakar atau Tungku Pembakaran dan Kayu Bakar atau batu bara atau sekam padi. Sementara bahan baku hanya terdiri dari Tanah Liat, Air dan Abu sisa pembakaran.
Proses pembuatan batu batu terhitung sederhana tanah liat yang sudah diramu dicetak dalak dalam mesin pencetak, selanjut di jemur lalu dibakar selesai sudah.Beberapa peneliti mencoba mengembangkan beberapa alternatif pengganti bahan baku dan proses pembakaran untuk menghindari berkurangnya bahan baku tanah liat dan mencegah polusi akibat pembakaran. dan hasilnya mereka berhasil menemukan alternatif pengganti bahan baku tanah yaitu kotoran sapi. Sementara peneliti lainnya menemukan suatu ramuan yang dapat mengeringkan bata tanpa perlu dilakukan pembakaran.
2.2.3    Peranan Perempuan dalam Ekonomi Sosial
            Ahmadi (2003:239-230) keluarga merupakan suatu kesatuan sosial yang terdiri dari istri dan anak. Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dari hubungan yang tetap.    Fungsi keluarga adalah suatu pekerjaan atau tugas yang harus dilaksanakan di dalam atau oleh keluarga tersebut.
1.      Fungsi Biologis
Dalam fungsi ini diharapkan agar keluarga dapat menyelenggarakan persiapan-persiapan perkawinan bagi anak-anak karena perkawinan akan terjadi  proses kelangsungan keturunan. Dengan persiapan yang matang ini mewujudkan suatu bentuk kehidupan rumah tangga baik dan harmonis.
2.   Fungsi Pemeliharaan
Keluarga diwajibkan untuk berusaha agar setiap anggota keluarga dapat berlindung dari gangguan-gangguan udara dengan menyediakan rumah, gangguan penyakit dengan berusaha menyediakan  obat-obatan serta gangguan dari bahaya.
3.  Fungsi Ekonomi
Berusaha memenuhi kebutuhan pokok manusia, untuk melengkapi fungsi kebutuhan ini maka orang tua harus berusaha setiap anggota keluarganya
4.   Fungsi Keagamaan
Dengan dasar pedoman agama, keluarga diwajibkan menjalani dan mendalami serta mengamalkan ajaran agama dalam perilakunya sebagai manusia yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.    
5.   Fungsi Sosial
      Dengan fungsi sosial, keluarga berusaha mempersiapkan anak-anaknya bekal yang selengkap mungkin dengan memperkenalkan nilai-nilai serta sikap yang dianut dalam masyarakat serta mempelajari peranan yang diharapkan agar di dalam keluarga selalu terjadi pewarisan kebudayaan atau nilai-nilai kebudayaan.
Munandar (2005:47) Dalam kehidupan sosial partisipasi perempuan dalam peningkatan sosial ekonomi keluaarga tidak kalah penting dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan mampu melakukan banyak hal baik bersifat reproduktif yang tidak menghasilkan materi maupun bekerja mencari nafkah yang langsung menghasilkan (income earning work) guna kelangsungan ekonomi keluarga. Perempuan atau istri terlibat dalam pekerjaan adalah didorong oleh pendapatan suami yang rendah sehingga mereka bekerja sebagai petani, pedagang, buruh, karyawan, dan PRT. Dari pandangan di atas jelas tergambar bahwa kondisi ekonomi suami yang rendah menjadi salah satu pendorong istri turut andil mencari penghasilan dengan mengubah perannya dari sektor domestik ke sektor publik.
2.2.4    Perempuan Dalam Sektor Ekonomi
Wanita sekarang berbeda dengan wanita pada zaman dahulu.wanita zaman dahulu lebih sering ada didapur dibandingkan aktif di bidang organisasi kemasyarakatan tapi akhir-akhir ini banyak wanita yang sadar bahwa wanita juga bisa membantu meningkatkan perekonomian keluarga.wanita membantu perekonomian keluarga bukan berarti wanita itu ingin menandingi laki-laki tapi wanita ingin juga mengekspresikan dirinya dan membantu meringankan beban suaminya tanpa melupakan kodratnya sebagai seorang ibu dan seorang istri yang melayani suaminya.            Lebih dari 50% kini wanita menjadi penggerak perekonomian di Indonesia ini.mereka membangun dan menjadi penggerak untuk kemajuan ukm di Indonesia,karena keuletannya,kesabarannya serta jiwa pantang menyerahnya wanita bisa memimpin ukm. Keikut- sertaan perempuan dalam usaha ekonomi sepenuhnya didukung oleh undang-undang.
Perlindungan hukum terhadap ekonomi perempuan antara lain ratifikasi CEDAW dengan II No. 7/1978 tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan, UU No. 11/2005 tentang Pengesahan Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, serta UU No 12/2005 tentang Pengesahan Internasional Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tetang Hak-Hak Sipil dan Politik).












BAB III
METODE PENELITIAN
3.1   Lokasi Penelitian
        Lokasi penelitian adalah di tempat dimana peneliti melakukan penelitian terhadap objek yang akan diteliti. Adapun lokasi penelitian  ini di Gampong Meunasah Aron  Kecamatan  Muara Batu Kabupaten Aceh Utara. Alasan peneliti melakukan penelitian di daerah ini  karena daerah tersebut mampu menghasilkan batu bata dengan kualitas yang bagus, selain itu informan dalam penelitian ini juga mudah untuk ditemui dan diwawancara sehingga data atau informasi untuk keperluan penelitian mudah diperoleh.
3.2   Pendekatan Penelitian
        Adapun dalam pendekatan dalam penelitian ini peneliti menggunakan penelitian  kualitatif deskriptif yang berdasarkan pada studi Life Story untuk memberikan gambaran umum mengenai hasil penelitian yang didapatkan dilapangan dengan menghubungkan dengan teori ataupun pendapat para ahli yang relevan dengan penelitian ini agar diperoleh hasil yang akurat ( objektif) mengenai permasalahan yang telah diteliti daam penelitian ini yaitu tentang perempuan pengrajin batu bata ( Moleong , 2004 :24).
       Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan life history dimana data yang digunakan berasal dari pengalaman –pengalaman individu masyarakat dan pengalaman individu tersebut nanti akan digunakan untuk menggambarkan keadaan masyarakat yang diteliti terutama yang berkenaan dengan permasalahan penelitian.
3.3. Informan Penelitian
            Teknik pengambilan informan dalam penelitian ini melalui teknik purposive dalam hal ini pemilihan berdasarkan pada karakteristik tertentu yang dianggap mempunyai sangkut paut dengan karakteristik yang sudah diketahui sebelumnya.
            Informasi yang dapat diberikan oleh informan atau terkait dengan permasalahan yang terkait dengan permasalahanyang penulis angkat antara lain :
1.      Pengrajin batu bata perekonomian aceh utara
2.      Pemilik usaha batu bata
3.      Agen batu bata
4.      Konsumen
Informan yang telah ditetapkan ditentukan secara purposive. Sedangkan ke masyarakat ditentukan dengan cara instrumental dilakukan dengan cara teknik penentuan yang berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara  kebetulan / incidental bertemu dnegan peneliti dapat digunakan sebagai informan bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data ( Sugiyono, 2006 : 96).
3.4   Sumber Data
         Secara umum ada dua data, yaitu data primer dan data skunder. Data primer yaitu data –data yang diperolah dari sumber –sumber asli yang memberi informasi langsung dalam penelitian dalam hal ini hasil wawancara  dengan  para pengrajin batu bata yang ada di Kecamatan Muara Batu, sedangkan data sekunder dalam penelitian ini yaitu data – data yang diperoleh dari sumber –sumber yang langsung diperoleh dari buku , bahan bacaan yang berkaitan dengan penelitian.
3.5  Tekhnik Pengumpulan Data
            Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap dan akurat peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut :
   1. Observasi
Observasi merupakan pengamatan secara terfokus dan mendalam pada objek penelitian  untuk memperoleh data. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukaan secara langsung pengamatan di lokasi penelitian. Peneliti melakukan observasi partisasi adalah metode pengumpulan data yang di gunakan untuk menghimpunkan data penelitian melalui pengamatan dan penginderaan dimana peneliti terlibat dalam keseharian informan  ( Bungin, 2007 : 155).

2.    Wawancara
            Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu data tertentu. Wawancara, untuk mendapatkan data yang akurat. Peneliti akan melakukan wawancara secara langsung  dan mendalam. Wawancara dilakukan terhadap informan perempuan pengrajin batu bata, baik secara individual maupun bersamaan tentang pengalaman hidup sebagai pengrajin batu bata, kehidupan ekonomi keluarga, tanggapan suami tentang pekerjaan sebagai pengrajin batu bata.
3.      Dokumentasi
     Menurut Burhan Bungin ( 2007 : 121) dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang digunakan dalam metode penelitian sosial untuk menelusuri data historis. Adapun dokumentasi yang dilakukan oleh penulis adalah melalui buku –buku, majalah ilmiah, dan foto yang menghasilkan data deskriptif yang cukup berharga dan sering digunakan untuk menelaah segi –segi subjektif dan hasilnya sering dianalisis secara induktif.
4.Literatur
Merupakan sumber yang diperoleh dari hasil penelitian terdahulu baik berasal   dari buku majalah, koran dan internet.
3.5   Teknik Analisis Data
        Pengambilan data dilakukan dengan cara mengumpulkan data –data yang diperoleh dari dokumen –dokumen serta keterangan –keterangan fakta dan informasi yang berupa lisan, kemudian proses selanjutnya  yaitu menyederhanakan data yang diperoleh kedalam bentuk yang mudah dibaca, dipahami dan diinterpretasi oleh penelitian untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan yang telah dirumuskan.
            Analisis data dilakukan dengan sepanjang proses penelitian dengan mengikuti tahapan analisis sebagai berikut:
1.      Pengumpulan data yaitu serangkaian proses pengumpulan data yang sudah dimulai sejak awal penelitian.
2.      Mereduksi data, yaitu proses penggabungan dan penyeragaman segala bentuk data yang menjadi satu bentuk yang akan dianalisis.
3.      Display data, yaitu pengolahan data setengah jadi yang sudah seragamdalam bentuk tulisan dan sudah memiliki alur tema yang jelas kedalam suatu matrik kategori sesuai dengantema yang sudah dikelompokkan dan diketegorikan, serta akan memecah tema –tema tersebut kedalam bentu yang lebih konkret dan sederhana, proses ini berlangsung secara terus menerus selama penelitian berlangsung.
4.      Menarik kesimpulan, melakukan berdasarkan hasil penelitian  yang diperoleh dari hasil wawancara observasi maupun dokumentasi
5.      Melakukan penafsiran ulang terhadap kesimpulan guna menghindari kesalahan terhadap data dan mematangkan hasil data yang diperoleh.




Wednesday, July 26, 2017

BELAJAR MENULIS /Jenuh,sulit dalam menulis

Belajar menulis demi kepentingan sendiri.
                   Muhammad iqbal

TERNYATA menulis tentang menulis itu sulit. Sudah berulang kali saya mengganti kalimat pertama tulisan ini. Sampai akhirnya diputuskan inilah yang paling tepat: memberi tahu semua orang bahwa saya gagal membuat paragraf pertama yang baik. Namun itu bukan masalah.
Kata Jean-Francois Lyotard, “Apa yang mengancam dalam karya berpikir (atau menulis) adalah bukan meninggalkan cerita, tetapi menganggap menjadi sempurna”. Ketepatan, kerapian, kedalaman, dan perampungan adalah keharusan dalam menulis. Namun, menuntut diri menjadi sempurna adalah hal sia-sia. Menulislah tanpa harus gelisah pada sempurna atau tidak.
Lyotard mengutip jawaban Claud Simon ketika ditanya: Bagaimana Anda membayangkan tugas menulis? Pertama, mencoba memulai sebuah kalimat. Kedua, melanjutkannya. Ketiga,  menyelesaikannya. Karena “menulis adalah untuk mencari”, Lyotard mengibaratkan ketiga tahap itu seperti menemukan dan mencintai seorang wanita (memulai) dengan tujuan melahirkan anak (melanjutkan) dan memiliki pengatur hidup agar berjalan sebagaimana lazimnya (menyelesaikan).
Semudah itu? Di awal-awal belajar jelas tak gampang. Ada keinginan besar menjadi penulis yang baik dan produktif, tetapi tidak punya “stamina menulis” memadai. Seperti orang yang baru belajar bermain bulu tangkis. Awalnya akan pegal di lengan, pinggang, paha, dan betis. Setelahnya, karena terbiasa berlatih keras, semua gerakan akan lancar. Menulis membutuhkan latihan tanpa jeda.
Guru tidak “nyata”
Orang-orang bertanya: kamu belajar menulis sama siapa? Pada sebuah kesempatan menjadi pendamping Teuku Kemal Fasya (TKF) dalam pelatihan menulis untuk para mantan penderita kusta, saya belajar banyak hal pada antropolog berhidung mancung itu.
Sebelumnya saya belajar dari orang-orang yang sampai hari ini belum pernah ditemui. Awalnya “memilih” Denny J.A, lewat buku Politik yang Mencari Bentuk (2006). Artikel-artikel di dalamnya menggerakkan saya untuk menulis. Pada 9 September 2011, artikel pertama dimuat di sebuah koran lokal yang kini sudah tak terbit. Sejak 2012 menargetkan: tiada bulan tanpa artikel yang terbit di media. Sampai kini saya berhasil dan akan jalan terus.
Ketika mulai sadar bahwa menulis bukan hanya soal analisis, gaya bahasa, kayanya referensi, dan kemudahan dicerna, tetapi juga keberpihakan ideologi, saya meninggalkan Denny, seorang pendukung demokrasi liberal dan kapitalisme. Lantas saya berpaling pada Revrisond Baswir, Ahmad Erani Yustika, Yasraf Amir Piliang, Sri Palupi, dan Radhar Panca Dahana. Yang terakhir disebut adalah yang paling saya kagumi.
Jika teks dianggap sekadar bacaan, tidak sampai mengubah perilaku dan cara seseorang menyikapi realitas, saya tak setuju. Radhar membuka pikiran saya, sekaligus membentuk perilaku sehari-hari yang baru. Salah satunya tentang “gerakan moral untuk hidup cukup” atau “ekonomi cukup”.
“Biarlah kita miskin materi secara pribadi, tapi kita kaya akan karya dan pengabdian pada rakyat semesta”. Itu keberhasilan teks Radhar, guru jauh nun di seberang lautan yang sampai hari ini belum sempat bertemu. Dengan demikian, tidak bisa menulis karena tak punya guru bersemuka menjadi alasan yang dibuat-buat. Berguru pada seorang penulis bisa dari mempelajari karya-karyanya.
Alasan mengada-ada lainnya: tidak punya komputer atau laptop. Jarniati, sahabat saya, mendapat penghargaan “Penulis Inspiratif” pada wisuda Sekolah Demokrasi Aceh Utara Angkatan III (28/12/2013). Dibanding beberapa temannya, jumlah artikel yang diproduksi Jarniati dalam setahun tak seberapa. Yang jadi pembeda: dia punya semangat besar meski tidak punya komputer atau laptop. Dia menulis di kertas, lalu minta diketikkan pada temannya. Masih mau berargumen tidak punya fasilitas cukup? Urungkan! Mari fokus pada mengerjakan, bukan mengeluh pada keterbatasan.
Mengeluarkan-memasukkan
Menulis adalah kegiatan “memasukkan untuk mengeluarkan”. Dasar argumennya: jika tiada yang aku masukkan, maka tiada yang bisa aku keluarkan. Di sini, “memasukkan” adalah soal menyerap fakta, ide, writing style, dan banyak lainnya. Tiada penulis sejati yang tidak membaca. Membaca pun tak boleh dipersempit sekadar merengkuh isi buku, tetapi juga membaca realitas (kemiskinan, penindasan, manipulasi, pelecehan, heroisme, terobosan, dan sebagainya). Penulis yang tak giat dan cermat membaca cenderung meracau.
Pada tahap selanjutnya, menulis menjadi kegiatan “mengeluarkan untuk memasukkan”. Inilah puncak menulis. Segenap penjelasan, ide, atau kritik yang dibangun dalam proses menulis kemudian dipublikasikan agar jadi masukan bagi pihak yang disasar. Sementara pihak yang disasar bisa saja malah gusar. Tidak perlu takut “menyerang” lewat tulisan, walaupun kemudian dibalas dengan cacian.
Tulisan yang baik, kata TKF, adalah yang “to strike the empire”. Ide, yang disebarkan lewat teks, tujuannya bukan untuk diterbitkan di koran semata, dilombakan, atau dijadikan sumber profit. Idealnya digunakan untuk menolong dan memperbaiki. Sementara dalam menolong, selalu ada yang merasa terganggu. Lumrah. Ada yang berterima kasih, lainnya menghujat. Tidak perlu takut pada kritik, cemoohan, bahkan ancaman.
Karena kesal pada artikel “Pengkhianat” (Serambi,7/12/2013), lantas zubirbir35@gmail.com memaki saya sejadi-jadinya. Namun dia, dan haters lainnya, tidak berhasil melemahkan saya. Justru menjadi energi. Mendapat respons itu menyenangkan, tidak peduli apakah itu cemoohan atau pujian. Keduanya menyemangati. Setiap penulis punya musuh dan pendukung masing-masing.
Tujuan menulis
Tujuan menulis akan menentukan isi tulisan. Kalau tujuannya ingin mendapat kedudukan dan uang, itu keliru. Pengejar kemasyhuran dan kekayaan tak akan punya “stamina menulis” tahan lama. Ketika karyanya gagal mendatangkan materi (melimpah), semangat pun runtuh. Bahkan ada yang mundur sebelum mencoba, gara-gara media yang hendak disasar ternyata tak menyediakan honor. Meski sepatutnya dihargai, tetapi penulis hendaknya tidak mengejar penghargaan.
Selain masalah honor tadi, yang juga meruntuhkan “stamina menulis” adalah kenyataan bahwa karya hanya dibaca (sangat) sedikit orang. Akibatnya, betapapun harus diselesaikan dengan susah payah, tulisan akhirnya gagal memberi dampak seperti yang diidealkan. Ide dan solusi diproduksi, tetapi realitas tak kunjung terperbaiki. Lantas, haruskah berhenti ketika tak didengarkan?
Dengan cerdas seorang teman mengaitkan penulis yang hanya bisa memberi dampak kecil–bahkan nihil sama sekali–dengan usaha burung bulbul ketika hendak memadamkan api yang dinyalakan Namrudz untuk membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup. Bulbul, dengan paruh kecilnya, bolak-balik membawa air untuk disiram ke kobaran api. Dia tidak khawatir dengan dampak berhasil atau tidak. Yang diutamakan bulbul adalah realisasi akhlak: ingin dicatat sebagai makhluk yang tulus melakukan kebaikan.
Jadi tak perlu gelisah pada pengaruh. Memangnya tulisan-tulisan kritis Zulfikar Muhammad berhasil membuat legislator-legislator di DPRA mau mengesahkan Rancangan Qanun KKR dengan segera? Memangnya “Politik Kita” (Serambi, 1/10/2013) bisa membuat pengelola Indomaret mau mengurangi pemakaian lampu secara mubazir? Memangnya artikel “Buruknya Perencanaan Pembangunan Aceh” (Serambi, 12/12/2013) serta-merta bisa mengubah pola perencanaan pembangunan Aceh menjadi baik? Memangnya karya-karya Radhar Panca Dahana yang menggugat beroperasinya ide-ide oksidental (demokrasi, kapitalisme, liberalisme) di Indonesia bisa diterima banyak orang? Tidak.
Namun setidaknya kita sudah menyelamatkan pemikiran diri melalui menulis. Sebab, sebagaimana kata Caius Titus, verba volant scripta manent. Kita juga tidak bisa dikatakan gagal, tidak gunawan. Kita melakukan langkah besar meskipun tak mampu mengubah realitas, atau maksimal hanya menghadirkan efek kecil.
  Berjayalah anda untuk meningkatkan prestasi masa depan.

Muhammad iqbal, Alumnus Program Studi Ilmu Politik Universitas Malikussaleh