Rabu, 18 Agustus 2010

Satu Episode Kehidupan

Kita sekarang ini sudah sampai di Alam Dunia. Lihatlah dunia dengan segala hiruk pikuknya. Ada orang naik motor barunya dengan gagah berharap ada yang mengaguminya, ada pemulung tua yang membolak-balik tumpukan sampah di ujung gang berharap menemukan plastik bekas air mineral dan ia ingat beras di rumah hanya tinggal buat besok pagi, ada seorang manajer yang sedang menghitung tabungan berharap uangnya cukup untuk membayar uang muka membeli mobil baru.

Ada sebuah keluarga baru yang sedang tertawa gembira menyambut kelahiran putra pertama mereka, ada seorang anak kecil yang sedang menangisi ibunya yang meninggal sore tadi karena ditabrak bus kota, ada sepasang muda mudi sedang asik bermesraan di tepi pantai Parang Tritis menikmati sunset, ada seorang om-om yang sedang merangkul mesra mahasiswi seusia anak pertamanya memasuki kamar losmen Kaliurang,

Ada di nun jauh di sana di palestina sana seorang tentara Israel asik menembaki sekelompok anak kecil yang melempar dengan batu kecil, dan di sebuah surau kecil ada seorang pemuda yang sedang bersujud bercucuran matanya karena takut Allah tidak mengampuni dosa-dosanya dan berharap mendapat berkah dan rahmat Allah. Semuanya begitu khusyuk dalam menjalani perannya.

Dunia yang penuh dengan situasi yang rumit dan begitu bermacam-macam ini bahkan telah sering membuat kita hanyut di dalam arusnya. Dan kita lupa dengan hakikat sebenarnya dunia ini.

***
 
Apa hakikat dari dunia ini?

Sesungguhnya semua kerumitan hidup dengan kesenangannya, kemewahannya, kepedihannya, kekejamannya, adalah ujian dari Allah bagi manusia untuk mengetahui mana manusia yang berkualitas dan mana yang tidak bermutu.

Perhatikan Firman Allah
Sesungguhnya kami Telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 18 : 7)

Bentuk ujian ini bisa berupa apa saja, bisa jadi dia adalah kesenangan dan kenikmatan hidup.

Dan apa saja (jabatan, kekayaan, pasangan, keturunan dsb.) yang diberikan kepada kamu, Maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? (Al Qashash 60)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran 3 : 14)

Tetapi dikali lain bisa jadi dia adalah penderitaan yang luar biasa beratnya.
Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Al Baqarah 2 : 155)

Terserah kepada manusia dalam menyikapi ujian dari Allah tersebut. ada yang berkehendak menggadaikan surganya dengan kesenangan hidup di dunia dengan mencari kekayaan dengan cara yang dilarang, korupsi, menipu atau dengan membunuh jiwa lain misalnya. Atau dalam membelanjakan hartanya dengan berlebihan bermewah-mewah. Atau dengan melakukan hal yang dilarang seperti berzina, mabuk-mabukan dan sebagainya. Atau ada yang bersabar dengan ujian itu, dan berzuhud dengan kebutuhan dasarnya saja, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah.

Allah membebaskannya, diserahkan sepenuhnya pilihan itu kepada manusia.
Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". (Al Kahfi 18 : 29)

***

Dalam menghadapi ujian ini ada 4 tipe manusia :

1. Mengingkari kehidupan akhirat
Tentang golongan manusia ini Allah berfirman :

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (Tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami. Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan. (Yunus 10 : 7 - 8)

Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian di dunia. Seluruh cita-cita, harapan, pemikiran adalah bersenang-senang, menikmati kehidupan dunia sebanyak-banyaknya sebelum kematian tiba.

2. Meyakini Alam Pembalasan dan dia  Menzalimi Diri

Inilah kebanyakan umat manusia. Mereka ini terbuai dengan dunia. Dunia adalah segala bagi mereka. Cinta mereka, marah mereka, sedih mereka, cemburu mereka dan seluruh perasaan mereka disebabkan dan untuk urusan dunia. Mereka beriman kepada akhirat tetapi tidak tahu, atau tidak mau tahu dengan akhirat, bahwa dunia hanyalah tempat untuk mencari bekal di akhirat.

3. Meyakini Alam Pembalasan dan Muqtashid (Menikmati Dunia Dari Arah Yang Dibenarkan / mubah)

Golongan ini melaksanakan semua kewajiban mereka terhadap agama, lalu membiarkan diri mereka bersenang-senang dengan kenikmatan dunia. Mereka tidak dihukum karena hal itu, tetapi derajat mereka rendah

Umar bin Khattab pernah berkata:
“Seandainya derajat surgaku tidak dikurangi, pasti aku akan menantang kalian dalam hal kehidupan dunia. Tetapi aku mendengar Allah berfirman: Kamu Telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu Telah bersenang-senang dengannya. (Al Ahqaf 46 : 20


4. Meyakini Alam Pembalasan dan Sabiq Bil Khairat bi Idznillah (Paham Hakikat Dunia Dan Beramal Sesuai Dengannya)

Mereka ingat dengan ayat Allah
Sesungguhnya kami Telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. (Al Kahfi 18 : 7)

Golongan ini memahami bahwa tujuan mereka berada di dunia ini hanya sekedar diuji saja siapa yang paling baik amalnya, yang paling zuhud dengan dunia, yang paling mencintai akhirat. Mereka merasa seperti halnya musafir yang merasa cukup dengan hanya mengambil dunia sekadar bekal saja. Agar tidak mengganggu perjalanannya karena banyaknya bawaan yang sebenarnya tidak berguna.

Sabda Rasulullah :
“Apa urusanku dengan dunia ini? Hidupku di dunia ini ibarat seorang pejalan yang berlindung di bawah sebatang pohon, beristirahat lalu meninggalkannya” ( HR Tirmidzi).

Juga nasihat Beliau kepada Abdullah Ibnu Umar
“Di dunia ini jadilah kamu seperti orang asing atau musafir”

Hasan Al Basri pernah berkata
“Betapa indahnya dunia ini bagi mukmin, dia beramal sedikit saja dan mengambil bekalnya menuju surga, dan betapa buruknya dunia ini bagi orang kafir dan munafik, keduanya menyia-nyiakan malam-malam di dunia. Dan dunia ini menjadi bekal keduanya menuju neraka”

***

Masihkah kita mau tertipu dengan dunia? Semua kembali kepada pilihan diri kita. Sekiranya memang menginginkan jalan selamat ya tinggal mengupayakan pembuktian-pembuktian saja dengan amalan-amalan kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar